Apaan sih Blue energy
Tidak ada satu kalimat yang tepat yang saya temukan untuk mendefinisikan Blue Energy. Istilah Blue energy hanyalah istilah yang sering dipakai untuk menamakan sumber-sumber penghasil energi yang ramah lingkungan. Biru sering dianggap sebagai manifestasi langit biru ataupun laut biru yang jernih dan bebas polusi. Ada juga yang mengistilahkan sebagai green energy, karena dianggap energi yang ramah lingkungan.Sumber energi yang disebut-sebut sebagai Blue Energy seringkali bersumber dari sumber energi terbarukan termasuk sumber-sumber energi non-fosil, atau lebih tepatnya non carbon based energy, artinya bahan dasarnya bukan berupa rantai karbon. Misalnya Energi Air Laut, Energi Geothermal, Energi angin, Energi Surya, dan lain-lain.
Namun sepanjang perjalanan sejarah, energi karbon masih merupakan energi termudah untuk diolah dan didapatkan, ditransport juga dimanfaatkan. Termasuk didalamnya adalah BioEnergi. Bio Energi sendiri masih merupakan Carbon Based, atau masih berupa rangkaian karbon. Sumber Bioenergi ini bisa bersumber dari BioGas, Bio ethanol, minyak jarak, minyak goreng (CPO-Crune Palm Oil) yang diubah menjadi BioDiesel dll.
Energi berbahan dasar Karbon (Carbon Based Energy)
Minyak bumi sebagai bahan bakar masa kini.
Dengan meningkatnya teknologi serta peningkatan taraf hidup manusia, kebutuhan energipun meningkat. Kebutuhan minyak bumi tentusaja meningkat sesuai dengan tingkat hidup. Semakin meningkatnya kebutuhan minyak bumi ini menyebabkan harga minyak terus menanjak. Disatu sisi akhirnya justru menuntut manusia untuk meikirkan bahan-bakar lain supaya tidak perlu mengganti mesin tetapi membuat minyak buatan (synfuel).
Synfuel (Synthetic Fuel) – Bahan Bakar Buatan
Ada beberapa macam cara untuk memperoleh rangkaian Hidrokarbon ini. Masing-masing dikembangkan berdasarkan proses kimiawi yang berbeda. Di alam bebas, proses ini terjadi secara alamiah dengan memanfaatkan energi panas (dari bumi) dan mereaksikan unsur-unsur yang juga sudah ada secara alami. Namun proses ini sangat khusus, sehingga tidak disembarang tempat akan dijumpai minyak dan gas bumi.
1. Synfuel dari Coal Gasification:
- Gasification 2C + ½O2 + H2O → 2CO + H2
- Water gas shift CO + H2O → H2 + CO2
- F-T reaction CO + 2H2 → CH2 + H2O
- Net reaction 2C + H2O+ ½O2 → CH2 + CO2
(F-T atau Fischer- Tropsch reaction adalah reaksi (2n+1)H2 + nCO → CnH(2n+2) + nH2O
2. Synfuel dari Coal Gasification + H2 dari pemisahan air:
- Gasification C + 1/4O2 + 1/2H2O → CO + 1/2H2
- Water-splitting 3/2H2O + Energy → 3/2H2 + 3/4O2
- F-T reaction CO + 2H2 → CH2 + H2O
- Net reaction C + H2O + Energy → CH2 + 1/2O2
Tentunya hal ini akan sangat-sangat menarik karena akan dinilai ramah lingkungan ( environment friendly).
Pertanyaan selanjutnya adalah “darimana memperoleh Hidrogen ?” Salah satunya adalah dengan proses elektrolisa. Ya dengan memanfaatkan teknologi nuklir atau melalui PLTN.
![]()
“whaddduh, hati-hati Pakdhe nanti dianggap menyalahi hukum Islam kalau bilang PLTN
, soale sudah difatwa haram looh pakdhe”
“Hust ini bukan soal agama, ini sekedar ilmu untuk bermimpi
“
Jadi dengan demikian hanya dengan penambahan H2 dari proses water splitting sudah akan mengurangi kadar CO2 yang dihasilkan. Saat ini Amrik sudah mampu memproduksi 11 Juta ton H2 pertahun tetapi melalui proses penguapan dan pengalihan bentuk (reformation) dari metana (CH4). Dimana tentusaja proses ini masih tergantung energi fosil dan masih menghasilkan CO2 sebesar 100 juta ton pertahun. Masih belum benar-benar biru, ya ?
Menurut Schultz, dkk (baca referensi dibawah), sebuah pembangkit berkapasitas 1100MW mampu memproduksi 360 ton H2/hari dengan efisiensi sebesar 24% efficiency. Dengan demikian masih diperlukan ribuan PLTN untuk mensupport pembuatan serta transportasi pembuatan synfuel. Seandainya terdapat efisiensi perolehan H2 hingga 50% tentunya kebutuhan powerplant menjadi setengahnya.
3. Synfuel dari penangkapan CO2 (CO2 Capture) + H2 dari pemisahan air (Water-splitting):
- Reverse Water Gas Shift CO2 + H2 → CO + H2O
- F-T reaction CO + 2H2 → CH2 + H2O
- Water-splitting 3H2O + Energy → 3H2 + 3/2O2
- Net reaction CO2 + H2O + Energy → CH2 + 3/2O2
CO2 dari mana ?
Bagaimana kalau sekarang CO2nya juga diambil dari udara. Loooh hiya bisa saja, kan ?. Memang benar ada sebuah metode penangkapan CO2 dari udara, alatnya juga sudah ada CO2 capturing. Salah satunya dengan memanfaatkan karbon yang dilepaskan oleh cerobong gas disebut Flue Gas.Nah sekarang kita tahu ada beberapa tahapan dalam menghasilkan synfuel atau BBS (bahan bakar sintetis). Pembuatannyapun berbeda-beda, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Termasuk kelebihan menghasilkan CO2
Kalau saja proses itu semua disebandingkan maka akan diketahui seberapa besar karbon yang dihasilkan. Lihat dibawah ini :
Secara lengkap kalau keseluruhan proses ini digabungkan maka akan diperoleh sumber bahan-bakar yang mungkin akan benar-benar biru (BBB). Maksudnya mimpi manusia untuk mendapatkan bahan bakar yang benar-benar biru dalam artian akan ramah lingkungan, rendah atau bahkan tanpa emisi karbon.
Yang mesti harus difikirkan adalah bagaimana emisi yg terbuang ketika memperoleh semua bahan-bahan ini termasuk ketika menghasilkan H2-nya dan juga pemanfaatannya (motor bakar). Karena walaupun pembakaran dalam mesin mobil dianggap lebih bersih, masih harus didihitungkan pula emisi yang terbuang ketika memproduksi synfuel ini.
Apapun yang telah dilakukan dengan Blue Energy ini di Indonesia (Minyak Indonesia Bersatu), tentusaja usaha ini harus diapresiasi. Karena sudah menunjukkan langkah kongkrit dalam mengatasi dan ikut serta berkiprah dalam pengembangan teknologi pembuatan minyak sintetis






0 komentar:
Posting Komentar